Selasa, 27 Maret 2018

BUAYA SAKIT GIGI

TEMA: Kejujuran
Dongeng ini karangan sendiri, saya sampaikan pada anak-anak sebelum tidur.

Suatu hari buaya terlihat muram, wajahnya tampak sendu terkadang meringis. Usut punya usut ternyata buaya sedang sakit gigi. Wah… sakit gigi itu enggak enak sekali ya! Meski yang sakit hanya satu gigi tapi ngilu dan ngerinya sebadan-badan. Buaya sakit gigi karena suka sekali makan yang manis-manis tetapi suka lupa gosok gigi. Buaya hari itu hanya meminum obat Paracetamol, dan belum periksakan diri ke dokter gigi. Setelah berasa baikan, buaya bukannya ke dokter gigi untuk periksa malah pergi memenhi undangan ulang tahun Kelinci.

Merasa sudah baikan dan ga sakit lagi, buaya makan kue, permen, susu coklat yang banyak dan dia bilang sama Kelinci kalau dia enggak pernah sakit gigi. Oleh karena itu Kelinci percaya aja dan memberikan makanan manis sebanyak-banyaknya pada buaya. Setelah acara ulang tahun hampir selesai giginya kembali ngilu dan sakit. Takut ketahuan oleh kelinci, buaya segera pamit pulang.
Sampai di rumah buaya sudah tak tahan lagi, merasakan sakit padahal dia sudah meminum obat namun ternyata sakitnya tak kunjung reda. Sampai malam menjelang dan pagi hampir tiba, buaya tak kunjung tidur dia bolak-balik ke kamar mandi untuk kumur-kumur air garam. Berharap sakitnya akan reda setelag berkumur. Sampai pagi hari buaya terus berbaring di kasur, karena kelelahan menahan sakit.

Kelinci datang hendak mengajaknya bermain, namun kaget karena buaya lemas di tempat tidur. Lalu buaya cerita bahwa dia berbohong tidak pernah sakit gigi, padahal memang dia langganan sakit gigi. Kelinci membujuk buaya untuk memeriksakan gigi ke dokter. Supaya cepat ditangani rasa sakitnya, dan dokter akan memberikan obat.
Akhirnya sampai di klinik gigi, sang dokter memeriksa buaya. Ternyata gigi buaya ada yang berlubang dan penuh dengan sisa makan. Buaya dinasihati oleh dokter supaya rajin mengosok gigi dan rajin periksakan gigi minimal 6 bulan sekali, jadi jangan menunggu sakit ya.

#30DEM
#30dayemakmendongeng
#day1

Senin, 26 Maret 2018

Youtuber, Profesi Favorite Zaman Now



"Dalam setiap zaman, ada profesi favorit yang menjadi idaman banyak orang. Profesi favorit biasanya mempunyai aspek yang dianggap penting dan bagus, bisa berupa penghasilan  atsu gengsi sosial" 




Suatu hari saya tanya pada anak-anak sudah besar mau jadi apa?

Anak-anak kompak menjawab: Youtuber!

Saya melonggo seketika...

==========================

What is youtuber?
Why is youtuber?
What are the benefits of becoming a youtuber?

Saya mencari-cari jawaban terkait pertanyaan diatas, ternyata Youtuber adalah profesi favorit pada zaman dimana ledakan saluran digital dan media sosial sangat dahsyat, sehingga meletakkan beberapa profesi baru di dalam dunia karier.

Aktifitas Youtuber yaitu seseorang mengunggah video-video ke akun Youtube, meraih pemirsa, dan tentunya meraup keuntungan dari kunjungan. Dengan format vlog atau video blog, seorang Youtuber dapat mengunggah apapun yang ia suka, minati, dan ingin disampaikan kepada dunia.

Youtuber termuda saat ini adalah Ryan, pemilik saluran Ryan ToyReview. Bocah 6 tahun ini menawarkan konsep ulasan mainan, dari anak untuk anak. Penghasilan Ryan pun termasuk yang tertinggi di antara Youtubers belia lainnya. Diperkirakan, Ryan meraih penghasilan 11 juta dolar Amerika per tahun atau setara dengan hampir 30 ribu dolar Amerika setiap harinya! Sangat wajar, mengingat per akhir Desember 2017, saluran milik Ryan memiliki lebih dari 10 juta subscribers. Di Indonesia juga ada beberapa Youtuber cilik yang sukses diantaranya Almeyda Nayara Alzier dengan akun instagramnya @nayaslime18.

Nah dari sinilah mereka terinspirasi dan ingin juga seperti mereka. Ditunjang dengan gadget yang mudah dijangka, akhirnya mereka terbiasa dengan  aktifitas merekam, menunggah dan bahagia mendapat respon teman-teman di medsos.

Meski akhirnya saya dan suami sepakat memerikan ruang kepada anak untuk bereksplorasi menjadi seorang Youtuber atau medsos lainnya sebagai penyaluran kreativitas mereka Namun kami selalu memantau dan menegaskan batasan-batasan serta mengingatkan baik dan buruknya menggunakan  internet.

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Minggu, 11 Maret 2018

Aliran Rasa: SFC Menguatkan Tekad Dalam Family Home Team



Bulan Maret 2018 yang berharga, menjadi titik balik dalam kehidupan kami.
Semakin yakin dan semangat untuk memantaskan dan berperan dengan sebaik-baiknya…

Bertemu dan ngobrol langsung dengan Gurunda,  Ibu Septi Peni Wulandani adalah impian terbesar yang saya pupuk selama ini. Makanya saya sangat kecewa dan sedih menerima kenyataan tidak bisa mengikuti Leader Camp Salatiga nanti, dikarenakan suami tidak mendapat izin untuk cuti, pilihan berangkat sendiridan anak-anak sepertinya bukan pilihan yang tepat.  perjalanan lintas pulau bersama anak-anak tanpa kawalan suami, akan sangat berat terasa terlebih saya belum berpengalaman bepergian sendiri.
Angin segar datang ketika IP Bontang dinobatkan masuk ke 30 besar dari 400 peserta yang mengikuti TANGKIS yang diadakan Jawa Post. Para anggota IP Bontang dipersilahkan hadir untuk menerima penghargaan namun lagi-lagi urung karena mempertimbangan kondisi kami di sini. Akhirnya batal kembali dengan Ibu Septi. Saya pasrah dan berdoa semoga suatu hari bisa bertemu.
Selang beberapa jam setelah info dari Jawa Post, saya mendapat kabar yang mengembirakan lagi dan semoga ini bisa terwujud dengan indahnya. Mendapat kabar kalau Ibu Septi akan hadir di Sangatta! Mimpi itu seolah hampir hadir di depan mata, rasa bahagia yang tadi layu kini bermekar kembali. Segera saya menghubungi Mbak Nailah memastikan saya bisa mengikutinya. Alhamdulillah Mba Nailah menyambut dengan baik, meski saat itu belum keluar informasi fix-nya dan belum meminta izin pada suami namun Bismillah! Allah akan membantu hambanya yang ingin belajar dan berproses lebih baik.

Qadarullah, semua kemudahan menghampiri dimulai dari Mba Sulis yang mengajak berangkat bareng, lalu suami yang tadinya enggan ikut alhamdulillah beliau bersedia mengikuti acara sampai selasai, anak-anak dalam kondisi sehat dan anugerah utama adalah bertemu dengan Gurunda Kehidupan Bu Septi dan Pak Dodik, yang selama ini mendapat nasihat dan materi dari dunia maya. Kini bisa berhadapan dan bertatap muka langsung tanpa batasan ruang dan waktu.
Selama Camp kita seolah dikeluarkan dari rutinitas, dijauhkan dari perangkat dunia yang selama ini menghambat komunikasi dan interaksi bersama keluarga. Benar-benar kita disatukan dalam keadaan yang tidak biasa, tidur di tenda kadang kepanasan dan kadang kedinginan, ancaman binatang liar yang siap kapan pun menyergap, kamar mandi jauh. Menjadi pelajaran berharga buat kami untuk selalu bersama meski keadaannya tidak senyaman di rumah.

Namun selepas pulang dari Camp, meski berpeluh dan lelah namun kami membawa berragam cerita dan kebahagaiaan. Terlebih si Kakak yang mendapatkan pengalaman berharga, bisa langsung bertemu dengan Kak Ara dan Kak Enes, suatu anugerah yang luar biasa.

Terimakasih Ya Allah telah meridhai perjalanan kami selama Camp.
Terimakasih teman-teman panitia SFC yang keren dan kompak abis, saya berharap IP Bontang bisa menyelengarakan acara yang sama. Aamiin..

 #SFC
#Keren
#KelasKehidupan
#FamilyPlanner

Kategori 1 : Menulis Liputan ala Keluarga Kami ttg SFC

Jumat, 02 Maret 2018

Ternyata… Anak Bukan Kertas Kosong!


Education Is The Kindling Of A Flame, Not The Filling Of A Vessel

Semenjak saya Sekolah Dasar hingga menjelang menikah, kata-kata ANAK ADALAH KERTAS KOSONG sering terdengar dimana-mana. Baik itu dalam ceramah agama dalam pemberitan TV dan lain sebagainya. Entah mungkin merujuk kepada sebuah hadits Nabi Shallahu Alalihi Wassalam yaitu:

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, dan Nashrani, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah ada telinga yang terputus?. (dari Abu Hurairoh).

Entah bagaimana permulaannya, hadist ini ditafsirkan keliru bahwa anak-anak itu ibarat kertas kosong, sehingga para orang tua atau orang dewasa lainnya bebas mengukir dan menuliskan apa saja yang mereka kehendaki. Sehingga muncullah konsep kurikulum yang menyeragamkan pendidikan karena anak-anak berada dalam kondisi pasif (alasannya mereka hanya sebuah kertas kosong yang harus diisi!).

Dalam buku yang saya temukan (hehe, soalnya pinjam dari perpus) ANAK SAYA BUKAN KERTAS KOSONG! Karya Bukik Setiawan, seperti menampar saya, akan sesuatu yang baru, berani mendobrak paradigma dulu. 
Tabula Rasa = Kertas Kosong

Seperti yang saya kutip dari laman Rumah Inspirasi yang membahas tentang Tabula rasa ini. Sebuah teori yang merujuk pada teori yang menyatakan bahwa anak-anak terlahir tanpa isi, dengan kata lain kosong. Teori ini dipengaruhi oleh pemikiran John Locke, dari abad 17. Ini menjadi salah satu asumsi dasar dalam penyelenggaraan pendidikan di semua sekolah. Dengan asumsi bahwa anak adalah sebuah kertas kosong, maka tugas utama guru dan proses pendidikan adalah mengisi kertas kosong itu dengan informasi-informasi (pelajaran) yang penting bagi anak-anak. Teori yang memandang anak-anak sebagai sebuah kertas kosong adalah sangat reduktif. teori tabula rasa ini bagiku menjelaskan fenomena anak-anak sekolah yang pasif dan kegiatan utama guru yang fokusnya mengajar (mengisi kertas kosong). Keterlibatan anak tak dianggap terlalu penting, apalagi pendapat dan inisiatif anak. Kalaupun ada, semua itu hanya bersifat suplemen untuk kegiatan utama tadi, yaitu mengisi pada anak-anak.


Bagian yang sangat saya suka dalam buku ini adalah pembahasan tentang Pendidikan yang Menumbuhkan! Ini menjadi titik kunci, mengapa banyak orang tua termasuk saya suka memaksakan dan menekan kehendak pada anak-anak karena kita anggap mereka tidak hau apa-apa, mereka hanya kertas kosong!
Buku dengan ini juga mengupas berbagai teori tentang gaya belajar anak, saya semakin memahami bahwa gaya belajar anak-anak saya Auditory dan Kinestetik. Perpaduan yang sangat unik. Dalam hal man ini perlu sekali pemahan para orang tua, bahwa anak seperti diatas akan bosan untuk duduk lama dan hanya diminta memperhatikan. Anak-anak ini justru harus diajak main di luar dengan permainan yang menumbuhkan semangat mereka untuk belajar.

Buku ini dengan gaya bahasa yang simple dan mudah dipahami, sehingga lebih enak dicerna bahkan sampai ingin berulang-ulang membacanya karena setiap pembahasan BAB adalah kunci, perbaikan diri untuk menjadi orang tua yang paham dan memahami bahwa ANAK BUKAN KERTAS KOSONG, mari mulai berusaha memantaskan diri untuk meyambut kecermerlangan anak-anak.

#Jurnal 4
#BunsayKordi