Sabtu, 02 Juni 2018

Disleksia Itu Ada!


Anak malas!
Anak Bodoh!
Anak Nakal!

Film Karya Aamir Khan
Itulah label yang kita ciptakan sendiri, manakala menghadapi anak-anak yang sulit untuk belajar terutama membaca dan berhitung! Padahal itu hanya sebuah gejala, efek dan pelarian saja, permasalahan utamanya bukanlah itu, ada pola kesalahan yang sering dilakukan berulang-ulang. Kebingungan mengenal huruf yang bentuknya mirip misal “b” dengan “d” juga sulit mengartikan kata. Padahal dalam membaca dan menulis proses menghubungkan suara dengan simbol sehingga kita mengetahui arti dasarnya. Itula penyakit Disleksia! Menurut beberapa sumber definisi dari Disleksia itu adalah suatu gangguan proses belajar, di mana seseorang mengalami kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi bagaimana kata-kata yang diucapkan harus diubah menjadi bentuk huruf dan kalimat, dan sebaliknya. Ternyata urusan mengenal huruf saja cukup pelik, apalagi jika orang tua tidak memahami permasalahan anak yang sebenarnya. Yang ada hanya tekanan dan siksaan bagi anak-anak yang menderita Disleksia. Disleksia ternyata ada! Namun jarang sekali para orang tua memahaminya, beruntung bagi yang sudah menonton film Taare Zameen Par - तारे ज़मीन पर - atau dalam Bahasa Inggrisnya berarti “Stars on Earth”.


Film yang berkisah tentang seorang anak bernama Ishaan, seorang anak yang dianggap luar biasa nakal dan banyak ulah. Ia sering mendapat nilai merah dalam berbagai pelajaran. Baik guru, tetangga maupun orangtuanya, menganggap Ishaan adalah biang masalah, sehingga akhirnya sang Ayah mengirim Ishaan ke sebuah sekolah asrama. Menjadi bahan pembelajaran untuk para pendidik dan orang tua, tidak semua anak itu nakal dan bodoh tanpa melihat lebih dalam alasan mengapa anak tersebut kesulitan dalam menangkap pelajaran. Kadang kita tak mau mengerti, sehingga kitalah yang menciptakan label nakal dan bodoh tersebut! Disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dys (kesulitan) dan lexia (kata-kata), untuk menyebut gangguan yang memengaruhi pengembangan keterampilan literasi dan bahasa. Orang dengan disleksia mengalami masalah belajar spesifik, terutama terkait kata-kata. Di dalam pikiran Aigis, misalnya, huruf-huruf dalam tulisan bercampur aduk dan tidak beraturan sehingga sulit dibaca dan diingat. 

Anak-anak Indonesia pun tak luput dari penyakit Disleksia ini,  Riyani T Bondan, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia, mengungkapkan, di dunia, 10 hingga 15 persen anak sekolah menyandang disleksia. Dengan jumlah anak sekolah di Indonesia sekitar 50 juta, diperkirakan 5 juta di antaranya mengalami disleksia.



Dokter spesialis anak-konsultan saraf anak, Purboyo Solek, mengatakan, anak disleksia berpotensi besar. Anak dengan disleksia memiliki intelegensia normal atau di atas rata-rata. Hal itu yang membedakan anak dengan kesulitan belajar spesifik seperti disleksia dengan kesulitan belajar umumnya. ”Berbeda dengan anak dengan kesulitan belajar yang tingkat intelegensianya di bawah normal, seperti epilepsi lena atipikal, down syndrom, dan sejumlah kasus autis. Disleksia sering kali dicampuradukkan dengan gangguan belajar lainnya,” ujar Purboyo. Sederet nama tokoh terkenal dan berpengaruh, seperti Albert Einstein (ilmuwan), Tom Cruise (artis), Orlando Bloom (artis), Whoopi Goldberg (artis), dan Lee Kuan Yew (mantan Perdana Menteri Singapura), tercatat menderita disleksia. 

Disleksia bukan disebabkan kebodohan, cara mengajar tidak baik, latar belakang ekonomi buruk, kurangnya motivasi atau gangguan lain, seperti penglihatan atau pendengaran.

Otak individu disleksia mempunyai cara berbeda dalam mengolah informasi terkait kata-kata. Cara mereka membaca ”tidak sama” dengan otak individu yang tidak disleksia. Masalah utama yang timbul hanya yang terkait dengan membaca, mengeja, dan menulis. Kesulitan lain yang mengikuti, antara lain, kesulitan konsentrasi, daya ingat jangka pendek kurang, tidak terorganisasi, dan kesulitan dalam menyusun atau mengurutkan sesuatu. Namun, ada sisi positifnya. Mereka mempunyai kemampuan atau keterampilan di area belajar lain yang biasanya baik atau bahkan jauh di atas rata-rata. Mereka unggul dalam kemampuan visual spatial, analisis masalah yang mendalam, kesadaran sosial, penyelesaian masalah, geometri, catur, atau permainan di komputer.

Gejala-gejala Disleksia

Gejala disleksia sangat bervariasi dan umumnya tidak sama pada tiap penderita. Karena itu, gangguan ini biasanya sulit dikenali. Terutama sebelum sang anak memasuki usia sekolah.
Ada sejumlah gen keturunan yang dianggap dapat memengaruhi perkembangan otak yang mengendalikan fonologi, yaitu kemampuan dan ketelitian dalam memahami suara atau bahasa lisan. Misalnya, membedakan kata “paku” dengan kata “palu”.
Pada balita, disleksia dapat dikenali melalui sejumlah gejala yang berupa:
  • Perkembangan bicara yang lebih lamban dibandingkan anak-anak seusianya.
  • Membutuhkan waktu lama untuk belajar kata baru, misalnya keliru menyebut kata “ibu” menjadi kata “ubi”.
  • Kesulitan menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan diri, misalnya kesulitan untuk memilih kata yang tepat atau kesulitan menyusun kata dengan benar.
  • Kurang memahami kata-kata yang memiliki rima, contohnya “putri menari sendiri”.
Karena sulit dikenali, disleksia terkadang ada yang baru disadari setelah penderita beranjak remaja bahkan dewasa. Beberapa di antaranya adalah:
  • Kesulitan membaca dan mengeja.
  • Kesulitan menyalin catatan serta membuat karya tulis, misalnya makalah atau laporan.
  • Bermasalah dalam mengekspresikan sesuatu melalui tulisan atau meringkas suatu cerita.
  • Sering tidak memahami lelucon atau makna bahasa kiasan, contohnya istilah “otak encer” yang berarti pintar.
  • Kesulitan dalam mengatur waktu, misalnya tenggat waktu dalam tugas.
  • Kesulitan mengingat hal-hal yang berurutan, misalnya nomor telepon.
  • Cenderung menghindari kegiatan membaca dan menulis.
  • Kesulitan berhitung.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menangani anak disleksia antara lain:
  • Bacakan buku untuk anak-anak. Waktu yang paling baik untuk membacakan buku adalah saat anak berusia 6 bulan, atau bahkan lebih muda. Saat anak sudah berusia lebih besar, cobalah membaca bersama-sama dengan anak.
  • Bekerja sama dengan sekolah anak Anda. Bicarakan kondisi anak dengan guru atau kepala sekolah, dan diskusikan cara yang paling tepat untuk membantu anak Anda supaya berhasil dalam pelajaran.
  • Perbanyak waktu membaca di rumah. Anda mungkin bosan membacakan cerita yang sama dan berulang-ulang pada anak Anda, namun pengulangan ini akan semakin meningkatkan kemampuan anak untuk memahami cerita sehingga mereka menjadi tidak begitu asing lagi dengan tulisan dan cerita. Berikan juga waktu untuk anak Anda membaca sendiri tanpa bantuan Anda.
  • Buatlah membaca menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan. Anda dapat memilih topik bacaan ringan yang menyenangkan, atau suasana membaca di tempat lain misalnya di taman.
 Bagaimana pun kita tetap mendambaakan kondisi anak dengan sebaik-baiknya, sebagai orang tua tetap bersyukur dan menerima anugerah Tuhan dengan sepenuh hati, jika ternyata Tuha berkehendak lain selanjutnya berkonsultasi kepada para ahli dan belajar adalah cara terbaik menjadi orang tua masa kini.

Referensi:
4.      film Taare Zameen Par
5.      Anak Bukan Kertas Kosong (Bukik Setiawan)


 
 



10 komentar:

  1. Sebagai orangtua seringkali kita tdk menyadari tentang kesalahan pola asuh. Film ini sangat menginspirasi

    BalasHapus
  2. Teh feli... terima kasih sdh menyajikan informasi ttg disleksia.
    IPers smd sempat diskusi santai tentang fakta disleksia ini. Jd pengen coba cari filmnya siapa tau bisa buat nobar ;)

    BalasHapus
  3. Film lama yang tak ketinggalan jaman untuk memahami disleksia, bahkan untuk orang yang samasekali asing dengan dikleksia. Tulisan mbak Feli juga menambah referensi tentang disleksia.

    BalasHapus
  4. Gejala yg tidak.spesifik kadang jadi penyebab utama ketidaksadaran orangtua atau pendidik akan disleksia ini, makasih mba feli pencerahannya 😘
    Enak bacanya 😄

    BalasHapus
  5. Anak saya yg kedua perempuan malas membaca dan menulis, umurnya 7y2m. Membaca tulisan mbak Feli membuat saya jadi memikirkan kemungkinan ini, walau saya analisa ga parah sih. Tetapi untuk berhitung alhamdulillah ga ada kesulit
    an berarti. Trimakasih ilmunya mbak. ^_^

    BalasHapus
  6. Jadi kepingin nonton filmnya. Terimakasih ulasannya ya Teh

    BalasHapus
  7. Wah, artikelnya membuka wawasan tentang disleksia Mba. Dan bahwa kekurangan apa pun yang dimiliki oleh seorang anak, pasti ada kelebihannya juga. Jadi ingat, anak Deddy Corbuzier juga kalau tidak salah disleksia juga, tetapi orang tuanya tetap meng-encourage sang anak, sampai bisa jadi lulusan terbaik Kumon (hasil ngintip di ig hehe..).

    BalasHapus
  8. Artikel yang menarik dan memberikan info betapa di sekitar kita ada disleksia yang butuh sentuhan cinta. Yang utama orangtua yang membantu dan terus mendampingi. Didlekdia juga punya kelebihan lain.

    BalasHapus
  9. jadi mengerti apa iu disleksia . .terima kasih mbak sudah berbagi

    BalasHapus