Kamis, 25 Mei 2017

Ramadhan di Kota Perantauan


        Ada rasa bahagia sekaligus rasa sedih menghadapi bulan ramadhan kali ini.
Bahagia karena akhirnya bisa menemani suami menjalankan dinasnya di kota migas ini. Sedihnya yaa... karena ramadhan kali ini jauh dari keluarga besar, jauh dari saudara dan kerabat. Kesedihan ini semakin terasa saat saya ke pasar tadi pagi, di sana banyak sekali ibu-ibu yang berbelanja meski sebenarnya pemandangan ini hal yang biasa. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda, mungkin karena

momennya mau puasa.  Saya jadi teringat Ibu dan Ibu mertua yang  riweuh seperti ibu-ibu yang tadi saya lihat di pasar.

             Dengan belanjaan yang seabreg-abreg dari mulai belanja daging sapi, buah-buah dan sayuran, meski sebagian harga-harga yang mereka beli sedang meloncat tinggi. Tetapi demi anak, demi keluarga agar saat-saat munggahan mereka semangat menjalankan puasa di hari pertama. Untuk itu para ibu-ibu rela membeli dengan jumlah yang disesuaikan dengan kondisi keuangan mereka. Semoga Allah SWT selalu memberkahi para ibu atas segala pengorbanan dan jerih payah mereka, Aamin.
Meski sedih dan rindu pada ibu dan kampung halaman, namun ber-ramadhan di sini tidak boleh terlewat begitu saja.
      Hanya suasananya saja yang berbeda, kenikmatan menjalankan ibadah dan berpuasa di sini lebih istimewa sebenarnya dibanding ber ramadhan di kota besar. Yah, Bontang memang kota kecil yang agamis. Ketakjuban saya saat pertama kali tinggal di sini adalah kekompakan dan kegesitan warga di sini saat mendengar adzan berkumadang. Kota yang tadinya berasa sepi dan sunyi menjadi riuh dan ramai dengan keluarnya orang-orang terutama bapak-bapak menuju satu tempat yaitu masijd. Dengan mengendarai motor karena letak masjid yang lumayan jauh jika berjalan kaki, sungguh pemandangan yang tak pernah saya temukan di kota besar tempat kelahiran saya.

            Selain itu masjid disini seperti sebuah hotel, ya.. ini ungkapan yang sangat pas yang diutarakan oleh seorang nenek asal Bandung yang pernah saya temui di suatu tempat.Ya, tidak berlebihan sih masjid di sini seperti di hotel, karena kebersihannya yang selalu terjaga. bukan hanya kebersihan tempat shalat, kamar mandi atau tempat wudhu, mukena yang selalu rapih dan wangi juga di setiap sudut di sediakan tisu, buku dan air mineral. Ditambah lagi dengan segudang kegiatan yang positif di sini membuat para warganya, senantiasa ikut berpartisipasi aktif, memakmurkan masjid.
             Ternyata sebuah kota tidak harus diwarnai dengan kemewahan pusat perbelanjaan dan hingarbingar kota yang seolah menawarkan kebahagiaan namu hanya semu semata.
Marhaban ya ramadhan...
 




3 komentar:

  1. InsyaAllah berkah kesabarannya ya Teh. Aamiin ... Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin ❤

    BalasHapus
  2. InsyaAllah berkah kesabarannya ya Teh. Aamiin ... Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin ❤

    BalasHapus
  3. Alhmdulillah.. Sami2 ya teh. Mohon maaf lahir bathin juga yaa

    BalasHapus