Selasa, 23 Mei 2017

Resume Bedah Buku - Talk Show- Temu Penulis

            Tidak biasanya suasana Masjid Baiturrahman PKT begitu ramai selama sepekan terakhir, ternyata sedang ada acara  Baiturrahman Islamic Fair. Hari terakhir bazzar tersebut ternyata ada acara yang sangat spesial, menurut saya, Talk Show "Menulis Sepanjang Usia" dan Bedah Buku "Bontang Menelisik Pesona Kotaku" Bersama beberapa Narasumber yang sangat istimewa seperti Mba Muthi Masfuah (Penulis Nasional dan Ketua Gagas Citra Media) lalu ada Mas Hendra Purnama (Novelis Nasional, Filmmaker dan Humas FLP Pusat) serta Kartini Hilmatunnida (Guru dan Penulis).  

       Acara yang dipandu oleh Mas Puguh Prasetyo (Penyiar PKTV) yang dihadiri oleh puluhan peserta ditambahn lagi hiburan yang dibawakan oleh i Project Nasyid semakin menambah semarak dan meriah. Materi pertama  disampaikan oleh narasumber oleh Mas Hendra beliau mengutip sebuah quote-nya


 “ Menulis adalah menjawab kegelisahan, jadi apapun yang kita tulis harus penting buat diri kita dulu, baru orang lain. Karena ada kesakitan yang sembuh ketika kita menulis”

Membuat saya sangat tersentuh oleh kegantengannya, maksudnya oleh kuotenya (hehe) betapa kenyataan saat ini banyak orang yang akhirnya stress dan terganggu kejiwaannya karena berbagai hal yang menekannya. Tanpa mereka tau bagaimana menumpahkan atau mengeluarkan segala unek-uneknya dalam hati. Narasumber kedua pun membahas sebuah kuote Menulis adalah memahat peradaban.” (Helvy Tiana Rosa) Tak perlu diragukan lagi, menulis adalah merekam dan menangkap momen, menuliskan dengan penuh penghayatan sehingga menjadi sebuah karya yang dapat dinikmati hingga beberapa peradaban berikutnya. Begitulah mengapa peran penulis sangat penting untuk mengabadikan setiap perubahan yang ada di dunia.



Pembahasan mengenai buku Bontang Menelisik Pesona Kotaku  berupa antologi bersama penulis-penulis di Bontang. Buku ini semacam peta reportase tentang berbagai elemen di Kota Bontang, mulai dari makanan khas, tempat wisata, sampai soal kebudayaan di sini (kabarnya sih bakal ada lanjutannya, nanti di buku-buku berikutnya ada pembahasan yang lebih seram lagi, bahkan sampai akan membahas soal Kuyang).
Sangat bersyukur saya bisa menghirup udara kota ini, kota kaya industri alam dan kota kaya akan budaya. karena semua suku Indonesia berkumpul mencari peruntungan lewat tiga perusahaan berskala internasional disini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar