Minggu, 04 Juni 2017

Mengubah Masalah Menjadi Tantangan



Hari ini sangat luar biasa sekali, perasaan seperti dibebani dengan sesuatu yang berat  dan menyesakan.  Yap, hari dimana saya menyadari betapa ceroboh dan penyesalan yang datang tidak berguna. Kasusnya saat itu kondisi saya sangat kepepet sehingga tanpa pikir panjang yang mengadaikan perhiasaan tanpa sepengetahuan suami. Saya sangat takut beliau marah, karena perhiasaan yang saya gadaikan untuk menutupi segala bentuk kreditan barang dari teman-teman saya.
2 juta rupiah, harga yang sangat fantastis sebenarnya untuk saya mengkredit tas, sepatu, gamis dan khimar dan entah kenapa saya dengan begitu kalapnya mengkredit semua. Dengan iming-iming diskon serta bisa diangsur perbulan tentu mengiurkan terutama dikalangan emak-emak. Tampil kekinian dan trendi meski kredit, saya rasa enggak masalah toh setiap bulan kita bayar. Si pemilik bisnis pun kelihatannya senang-senang saja melihat kita penuh gaya.
Mungkin karena tak ada komunikasi dengan suami, sehingga ridhonya pun tak turut serta dalam proses kredit barang-barang kekinian tersebut. Saya selalu kesulitan membayar pada saat tanggal yang telah ditetapkan, sehingga akhirnya menumpuk dan semakin membengkak. Maka mengadaikan perhiasan adalah jalan terakhir yang saya pilih untuk melunasi semua. Saya semakin ketakutan karena khawatir si empunya barang itu nagih ke rumah dan menemui suami saya. Bisa celakalah saya!
Permasalahan dengan si empunya barang, alhmdulillah selesai tapi hati masih berat karena belum berkata yang sebenarnya pada suami. Bertahun-tahun saya pendam, sambil mencari solusi namun seolah semuanya buntut, dan lebih kacau lagi saat saya ditelpon pihak pegadaian jika perhiasan saya sudah dilelang karena saya nunggak membayar.
Saya semakin bingung dan kalut, ketika suami menanyakan perhiasan atau kok jarang pakai. Kebohongan demi kebohongan saya utarakan. Dari mulai males pakai, bosen pakai, takut hilang dan lain-lain sudah saya keluarkan. Hingga hari ini saya masih berat memberitahu yang sebenarnya. Tapi harus saya lakukan karena saya sudah sangat lelah dengan beban berat ini.
Masalah ini saya jadikan tantangan, yap tantangan untuk saya berbuat jujur! Karena tak ingin terus menerus dihantui oleh rasa takut dan terus menerus berbohong. Saya harus beritahu suami, kesalahan saya dan menyatakan penyesalan atas kecerobohan saya. Apapun hukumannya akan saya terima dengan lapang dada, yang terpenting saya sudah menyatakan yang sebenarnya. Ini menjadi pelajaran untuk saya, untuk tidak gegabah dalam bertindak dan tidak silau oleh kesenangan sesaat. 


#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP


Tidak ada komentar:

Posting Komentar